
Pemerintah Kota Magelang bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Tugu atau Monumen Paku Bumi di Simpang Tiga Bayeman Kota Magelang, Kamis (17/9/2026).
Pembangunan monumen bernilai filosofis tinggi ini digagas dan didukung penuh oleh keluarga pengusaha lokal, Slamet Santoso pemilik HK Mustika Gold.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, menyampaikan bahwa kehadiran tugu ini diproyeksikan menjadi ikon baru Kota Magelang yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
“Sehingga pada tahun baru kita punya icon baru di Kota Magelang,” ujar Damar Prasetyono.
Untuk mendukung penataan kawasan sekitar monumen, Pemkot Magelang melakukan pembongkaran planter sepanjang kurang lebih 300 meter, mulai dari area depan Mie Gacoan hingga pertigaan bayeman. Pembongkaran ini bertujuan untuk memperluas akses jalan kendaraan dari arah timur yang akan berbelok ke kanan, sekaligus menambah fasilitas trotoar dan jalur sepeda.
Damar menjelaskan, lokasi pertigaan Bayeman dipilih karena merupakan pertigaan terbesar di Kota Magelang yang memiliki ruang (space) cukup luas tanpa mengganggu arus lalu lintas sekitar. Selain itu, posisinya berdekatan dengan Gunung Tidar yang menjadi warisan sejarah dan kebanggaan masyarakat Kota Magelang.

Sementara itu, pemilik HK Mustika Gold Slamet Santoso menuturkan, keterlibatan keluarganya dalam pembangunan monumen ini merupakan wujud rasa syukur atas keberadaan mereka di Kota Magelang.
“Kami berharap pembangunan ini bisa menghadirkan keindahan dan menjadi monumen yang baik agar Magelang semakin dikenal dan menjadi ikon Indonesia,” ungkap Slamet Santoso.
Ia menambahkan, konsep Paku Bumi memiliki filosofi mendalam tentang menjaga warisan dan kehormatan. Ia berharap keberadaan monumen ini menjadi pengingat bagi masyarakat Magelang maupun wisatawan untuk senantiasa menghormati serta menjaga Kota Magelang layaknya sebuah pusaka.

Konsultan Perencana proyek CV Cahaya Pilar Utama Fariz Agro, membeberkan detail teknis dan material pembangunan Tugu Paku Bumi tersebut. Proyek dengan nilai kisaran Rp900 juta ini dirancang memiliki ketinggian 15 meter dengan diameter mencapai 9,5 meter.
“Struktur rangka utama menggunakan besi siku baja. Untuk bagian luar/kulitnya menggunakan material tembaga yang dipahat langsung oleh pengrajin ahli dari Tumang, Boyolali,” jelas Faris.
Mengingat kondisi kontur tanah di lokasi proyek yang cenderung miring, pihak kontraktor telah memperhitungkan kekuatan struktur monumen secara matang. Konstruksi pondasi akan digali menggunakan bored pile hingga kedalaman 8 meter dan ditopang umpak setinggi 9,5 meter.
“Kedalaman galian 8 meter ini sudah sangat cukup untuk menopang getaran lalu lintas kendaraan berat, kepadatan tanah, maupun terpaan angin kencang di kawasan sekitar,” imbuh Faris.
Pihaknya menargetkan seluruh proses pengerjaan tugu dapat diselesaikan sebelum 12 Desember 2026, bertepatan dengan rencana penyelenggaraan pesta rakyat.
Pekerjaan fisik diawali dengan pemasangan pagar pengaman di lokasi proyek mulai Kamis (17/09/2026). Selama masa konstruksi, pihak pelaksana berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang untuk pengaturan dan rekayasa lalu lintas di sekitar pertigaan Simpang Tiga Bayeman.



















