Radio Tidar 94.30 FM Magelang

Radionya Generasi Terpelajar

SELAMAT DATANG DI PORTAL INFORMASI RADIO TIDAR 94.30 FM MAGELANG... RADIONYA GENERASI TERPELAJAR...

DAILY PROGRAM

Duka di Tanah Sasak: Menjaga Asa dan Nyala Harapan Pasca-Musibah Desa Sade

Sahabat Tidar, dunia pariwisata dan kebudayaan Indonesia baru saja diselimuti kabar duka yang mendalam. Desa Adat Sasak Sade—ruang hidup warisan leluhur yang kerap kita kagumi arsitektur serta keunikannya—mengalami musibah kebakaran hebat, Sabtu malam (22/08/2026).

Konstruksi bangunan yang didominasi material alami seperti atap ilalang kering, dinding anyaman bambu (bedek), serta tiang-tiang kayu membuat kobaran api meluas dengan sangat cepat. Puluhan Bale, toko kerajinan tenun, hingga artifak bersejarah ludes terbakar. Naskah lontar kuno serta alat musik tradisional Gendang Beleq yang selama ini menjadi identitas spiritual dan kesenian warga turut menjadi puing.

Namun, di tengah duka yang melanda, ada beberapa poin penting yang perlu kita cermati bersama:

  • Keselamatan Warga: Patut disyukuri, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Masyarakat adat bersama aparat dan pemerintah daerah bergerak cepat melakukan evakuasi dan penanganan darurat.

  • Kehilangan Benda Pusaka & Mata Pencaharian: Kerugian terbesar bukan hanya pada fisik bangunan, melainkan hilangnya alat tenun, persediaan kain songket, serta naskah-naskah kuno yang menyimpan sejarah panjang Suku Sasak. Banyak warga yang kini kehilangan tempat tinggal sekaligus mata pencaharian utamanya.

  • Komitmen Revitalisasi & Pemulihan: Pemerintah daerah bersama Kementerian Pariwisata dan pihak terkait langsung berkoordinasi untuk menyiapkan langkah tanggap darurat, bantuan sandang pangan, serta rencana rekonstruksi fisik kawasan. Harapannya, Desa Sade dapat dibangun kembali tanpa kehilangan akar arsitektur dan nilai adatnya.

Sahabat Tidar, musibah ini menjadi pengingat bagi kita betapa berharganya warisan budaya lokal dan betapa rentannya ia terhadap bencana. Bangunan fisik dan kain-kain tenun indah di Sade mungkin telah berubah menjadi abu, tetapi semangat, ketangguhan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Sasak tidak akan pernah padam.

Kini adalah waktunya bagi kita untuk mengulurkan simpati, doa, dan dukungan terbaik agar warga Desa Sasak Sade dapat segera bangkit dan menata kembali ruang hidup warisan leluhur mereka.

Terletak di Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Desa Sade bukan sekadar destinasi wisata, melainkan living museum yang memperlihatkan bagaimana suku asli Lombok, yakni suku Sasak, merawat warisan leluhur mereka di tengah gempuran modernisasi. Meskipun kabar duka baru saja menyelimuti kawasan ini akibat musibah kebakaran hebat, esensi dan nilai luhur Desa Sade tetap hidup di dalam ingatan serta semangat masyarakatnya.

Arsitektur Bale dan Filosofi Kerendahan Hati

Saat Sahabat Tidar membayangkan suasana Desa Sade, bayangan bangunan-bangunan tradisional yang berdiri kokoh langsung terlintas. Bangunan rumah di desa ini memiliki arsitektur khas yang disebut Bale. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bedek), atapnya menggunakan ilalang atau jerami kering, dan tiangnya memanfaatkan kayu-kayu lokal.

Ada beberapa jenis Bale di Desa Sade, mulai dari Bale Tani hingga Lumbung. Pintu masuk rumah sengaja dibangun rendah, sehingga siapa pun yang ingin masuk harus menundukkan kepala. Arsitektur ini mengandung filosofi mendalam: sebuah bentuk rasa hormat tamu kepada sang tuan rumah, serta simbol kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Walaupun sebagian bangunan ini sempat dilalap si jago merah, filosofi di balik bentuk arsitektur tersebut tidak akan pernah ikut musnah terbakar.

Tradisi Perawatan Lantai dan Keahlian Menenun

Salah satu fakta paling unik dari Desa Sade adalah tradisi perawatan lantai rumahnya. Masyarakat secara rutin mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau atau sapi yang dicampur dengan air dan abu. Bagi orang luar, hal ini terdengar tidak biasa, namun setelah mengering, lantai menjadi sangat padat, mengkilap, bebas debu, serta ampuh mengusir serangga. Tradisi ini mencerminkan keharmonisan hidup masyarakat dengan alam sekitar mereka.

Selain itu, kehidupan sosial di desa ini diwarnai oleh tradisi tenun yang kuat. Para perempuan Sade tekun duduk di depan alat tenun kayu tradisional (anisa). Menenun bukan sekadar mata pencaharian, melainkan keharusan budaya: seorang gadis Sasak belum diizinkan menikah jika belum mahir menenun kain songket. Prosesnya yang memakan waktu lama menghasilkan kain berkualitas tinggi dengan pewarna alami dari tumbuhan.

Adat Pernikahan dan Kesenian Tradisional

Suku Sasak di Desa Sade juga terkenal dengan tradisi pernikahan unik yang dikenal sebagai Merembaq atau kawin lari. Pemuda Sasak akan membawa lari gadis pujaannya atas persetujuan sang gadis, sebelum akhirnya pihak keluarga pria mengirimkan utusan untuk memberitahukan keluarga wanita. Prosesi ini dilanjutkan dengan musyawarah adat dan pesta pernikahan Nyongkolan, di mana pengantin diarak diiringi musik tradisional Gendang Beleq.

Kesenian lain yang menjadi kebanggaan adalah Peresean, yaitu tarian petarung antara dua pria menggunakan rotan dan perisai kulit kerbau. Diiringi tabuhan gendang, pertunjukan ini menampilkan sportivitas dan keberanian tinggi yang ditutup dengan pelukan persaudaraan di akhir laga.

Menghadapi Musibah Kebakaran: Duka dan Harapan Baru

Baru-baru ini, dunia kebudayaan Indonesia dikejutkan oleh musibah kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sasak Sade. Konstruksi bangunan yang didominasi material alami membuat api cepat menyebar. Puluhan Bale, toko kerajinan, naskah lontar kuno, hingga alat musik tradisional ludes dilalap api.

Kendati demikian, di tengah duka yang mendalam, ada secercah kelegaan karena tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat bergerak cepat menangani evakuasi serta bantuan darurat. Kerugian terbesar memang berada pada hilangnya artefak bersejarah, persediaan kain songket, serta tempat tinggal warga, namun semangat masyarakat Sasak untuk bangkit jauh lebih besar daripada abu yang tersisa.

Musibah ini menjadi pengingat bagi kita semua betapa rentannya warisan budaya fisik, sekaligus betapa tangguhnya jiwa manusia. Rekonstruksi dan revitalisasi kawasan kini menjadi prioritas utama agar Desa Sade dapat kembali berdiri tegak dengan keaslian adatnya.

Merajut Kembali Asa Bersama

Kehangatan senyum warga Sade, keramahan mereka dalam menyambut pelancong, serta ketulusan mereka menjaga tradisi adalah magnet yang tidak bisa dibakar oleh api apa pun. Bagi Sahabat Tidar dan seluruh pencinta budaya nusantara, saat ini adalah momen yang tepat untuk memberikan dukungan, doa, dan uluran tangan terbaik bagi warga Desa Sade.

Mari kita terus jaga kepedulian terhadap warisan leluhur kita. Semoga Desa Sasak Sade lekas pulih, bangkit dari abu, dan kembali menyambut para pencinta budaya dengan senyuman khas masyarakat Sasak.

Comments

comments

Berita Terbaru

Updated: 24 August 2026 — 3:32 am
Radio Tidar FM Magelang © 2018 Design By Blie Dessy