
Kain batik dan wastra Nusantara tidak hanya dapat dikenakan sebagai busana tradisional. Dengan kreativitas, selembar kain dapat diolah menjadi berbagai gaya fashion yang menarik dan sesuai untuk berbagai usia maupun kebutuhan acara.
Semangat tersebut dihadirkan melalui workshop “Main Kain” dalam rangkaian Event Magelangan, Kota Sejuta Karya, pada 3-4 Oktober lalu di kampus Untidar Sidotopo. Kegiatan yang diikuti sekitar 60 peserta ini menjadi ruang edukasi sekaligus kreativitas untuk mengenalkan kembali wastra Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Workshop tersebut merupakan kolaborasi Dekranasda Kota Magelang, DPPKUM, dan Disporapar Kota Magelang. Peserta berasal dari berbagai kalangan dan komunitas, mulai dari SMK Negeri 3 Magelang, SMK Pius Kota Magelang, Program Studi Pariwisata Universitas Tidar, Duta Wisata Kota Magelang, Permadani Kota Magelang, hingga masyarakat umum.
Tatok Prihasmanto, fashion designer asal Magelang, membagikan teknik sederhana dalam mengeksplorasi kain. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga langsung mempraktikkan berbagai teknik melipat, melilit, dan menata kain dengan bantuan model-model dari Pivot Management Magelang.
Konsep “main kain” menjadi menarik karena peserta diajak melihat kain dari sudut pandang yang lebih luas. Kain tidak harus selalu dijahit atau diubah bentuknya untuk menjadi busana. Dengan teknik penataan yang tepat, selembar kain batik dapat tampil lebih modern dan memiliki nilai estetika yang lebih tinggi.
Lebih dari sekadar aktivitas fashion, kegiatan ini juga mengajak masyarakat memahami makna wastra sebagai bagian dari identitas budaya Nusantara.
“Di balik selembar kain terdapat jejak peradaban, nilai filosofis, serta ketekunan para pembuatnya. Batik, tenun, ikat, hingga songket tidak hanya memiliki keindahan visual, tetapi juga menyimpan cerita mengenai hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat,” kata Yayan Arsa dari Pivot Managemen.

Ketua Dekranasda Kota Magelang Nanik Yuniati melalui sekretaris Dekranasda, Hetty Kusumawati menyampaikan, bahwa pelestarian batik menjadi tanggung jawab kita bersama.”Karena itu marilah mulai dari hal sederhana yakni dengan mencintai, mengenakan, membeli dan mempromosikan produk batik karya anak bangsa,” katanya.
Sekretaris Disporapar Kota Magelang Yetty Setyaningsih menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk menggaungkan industri kriya yang ada di Kota Magelang. Juga untuk menjaga warisan budaya batik. “Kita sampaikan ke masyarakat bahwa di Kota Magelang industri karya sudah mulai bergeliat,” ujarnya.



















