Komite Olimpiade Internasional (IOC) dijadwalkan bertemu dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau National Olympic Committee (NOC) Indonesia pada hari ini , 28 Oktober 2025 di Lausanne, Swiss. Pertemuan ini menjadi sorotan dunia olahraga setelah Indonesia menolak visa bagi atlet Israel yang akan bertanding di ajang World Artistic Gymnastics Championships 2025 di Jakarta.
Pertemuan itu akan menjadi momen penting untuk membahas konsekuensi dan langkah tindak lanjut dari keputusan pemerintah Indonesia yang dinilai bertentangan dengan prinsip non-diskriminasi dalam gerakan Olimpiade.
Kasus ini bermula saat Indonesia menolak pemberian visa bagi atlet Israel. Keputusan tersebut membuat IOC bereaksi dengan menghentikan dialog dengan KOI terkait potensi penyelenggaraan Olimpiade atau Youth Olympic Games di masa depan.
Melansir dari Antara News, IOC juga merekomendasikan kepada federasi olahraga internasional agar tidak menggelar kejuaraan besar di Indonesia sampai ada jaminan akses bagi seluruh atlet tanpa diskriminasi.
Pertemuan ini diperkirakan akan menjadi forum penting untuk menjelaskan posisi Indonesia di mata dunia olahraga. Indonesia sebelumnya sempat menyatakan minat untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2036 maupun Youth Olympic Games 2030, namun status tersebut kini menggantung setelah keputusan IOC menghentikan komunikasi resmi.
Dikutip dari Tempo.co, penghentian dialog dengan IOC berpotensi mempengaruhi reputasi Indonesia sebagai calon tuan rumah event olahraga global dan bisa berdampak pada partisipasi atlet di kejuaraan dunia.
Pertemuan pada 28 Oktober mendatang akan menjadi ujian penting bagi diplomasi olahraga Indonesia. Selain menjelaskan posisi nasional terkait kebijakan visa, Indonesia diharapkan mampu menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai Olimpiade seperti perdamaian, kesetaraan, dan netralitas politik.
Hasil pertemuan antara IOC dan NOC Indonesia akan sangat menentukan langkah ke depan bagi dunia olahraga tanah air. Jika Indonesia dapat memberikan solusi yang diterima IOC, peluang menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional bisa terbuka kembali. Namun jika tidak, risiko pembatasan dan penurunan reputasi di kancah olahraga dunia akan semakin besar.



















