
Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap menyambut Ramadan 2026 dalam suasana yang jauh dari kata meriah. Di tengah gencatan senjata yang masih rapuh, banyak orang mengaku sulit merasakan kegembiraan seperti tahun-tahun sebelumnya. Rasa duka dan kehilangan masih begitu kuat membayangi kehidupan sehari-hari, membuat bulan yang biasanya penuh cahaya dan kebersamaan terasa lebih sunyi dan berat dijalani.
“Tidak ada kegembiraan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih,” kata Fedaa Ayyad, warga Kota Gaza. Ucapannya menggambarkan perasaan banyak keluarga yang hingga kini masih berusaha bangkit dari trauma dan kesedihan akibat konflik berkepanjangan.
Ramadan di Gaza tahun ini dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Dalam kondisi normal, bulan suci menjadi momen hangat untuk berbuka puasa bersama keluarga besar, meningkatkan ibadah, serta mempererat solidaritas sosial melalui sedekah dan berbagai kegiatan keagamaan. Jalan-jalan biasanya dihiasi lampu dan dekorasi berwarna-warni, sementara anak-anak bermain dengan penuh keceriaan menanti waktu berbuka. Namun kini, suasana tersebut sulit ditemukan. Banyak sudut kota yang masih dipenuhi puing bangunan, dan aktivitas masyarakat berlangsung secara terbatas.
Perang antara Israel dan Hamas yang meletus sejak 7 Oktober 2023 telah meninggalkan luka mendalam. Menurut data Otoritas Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas. Selain korban jiwa, ribuan orang mengalami luka-luka, dan sebagian besar penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat kerusakan parah pada infrastruktur permukiman. Banyak keluarga kini hidup di tempat penampungan sementara dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Masalah yang dihadapi bukan hanya soal kehilangan orang tercinta, tetapi juga keterpurukan ekonomi. Aktivitas perdagangan di pasar-pasar tradisional menurun drastis karena daya beli masyarakat melemah. Lapangan pekerjaan semakin sulit ditemukan, sementara kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi, terlebih pada bulan Ramadan yang identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga.
“Tidak ada uang tunai di antara masyarakat. Tidak ada pekerjaan. Memang benar ini Ramadan, tetapi Ramadan membutuhkan uang,” ujar Waleed Zaqzouq, juga dari Kota Gaza. Ia menuturkan bahwa sebelum perang, kehidupan masyarakat memang sederhana, tetapi masih terasa stabil dan bermartabat. Kini, situasi telah berubah drastis dan menimbulkan rasa ketidakpastian yang berkepanjangan.
Meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober 2025, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Ketegangan masih kerap terjadi di sejumlah wilayah, disertai laporan tembakan dan serangan udara sporadis yang menambah daftar korban. Situasi ini membuat warga tetap hidup dalam kewaspadaan, bahkan saat menjalankan ibadah puasa.
Penderitaan para pengungsi semakin berat akibat musim dingin yang ekstrem. Hujan deras dan suhu yang rendah membanjiri kamp-kamp pengungsian, merobohkan bangunan yang telah rusak, serta meningkatkan risiko penyakit. Banyak keluarga harus bertahan dengan perlengkapan seadanya di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
“Dulu suasananya lebih menyenangkan. Jalan-jalan penuh dekorasi. Anak-anak kami bahagia,” kenang Raed Koheel dengan nada haru, mengingat Ramadan pada masa sebelum konflik meluas.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Di Khan Younis, seorang seniman kaligrafi bernama Hani Dahman berupaya menghadirkan sedikit keceriaan. Ia melukis tulisan “Selamat Datang, Ramadan” dalam aksara Arab di dinding bangunan yang telah menjadi puing. Aksi sederhana tersebut menarik perhatian anak-anak yang berkumpul untuk menyaksikan prosesnya, seolah menemukan secercah kegembiraan di tengah keterbatasan.
Dekorasi Ramadan yang sederhana mulai digantung di antara reruntuhan bangunan. Bagi Mohammed Taniri, pemandangan itu menjadi simbol keteguhan hati masyarakat Gaza. Menurutnya, upaya kecil untuk memperindah lingkungan sekitar menunjukkan bahwa semangat hidup dan keyakinan tidak mudah dipadamkan oleh situasi seberat apa pun.
Ramadan kali ini memang datang bersama duka, kehilangan, dan berbagai keterbatasan. Namun, di tengah puing-puing dan kesulitan yang belum berakhir, masih ada warga yang berusaha menjaga tradisi, merawat harapan, dan mempertahankan rasa kebersamaan. Di sanalah, secercah cahaya Ramadan tetap menyala.
Sumber: beritasatu.com



















