Di era yang serba cepat ini, banyak orang bangga dengan jadwal super padat dan target segunung. Tapi sadar nggak sih Sahabat Tidar, kalau semangat “harus produktif setiap waktu” itu justru bisa jadi racun buat diri sendiri? Fenomena ini disebut dengan toxic productivity dimana jika dibiarkan begitu saja akan menyebabkan burnout, stres, bahkan kehilangan makna hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari toxic productivity memiliki tanda-tandanya diantaranya adalah merasa bersalah saat tidak melakukan apa-apa, sulit beristirahat, selalu ingin menghasilkan sesuatu, dan terus memaksa diri meski lelah. Dilansir dari Vogue menjelaskan bahwa penderita toxic productivity kerap tidak mampu menikmati waktu santai karena merasa harus selalu berkarya.
Untuk keluar dari lingkaran toxic productivity, berikut adalah beberapa langkah yang bisa Sahabat Tidar lakukan:
- Tetapkan batas kerja . Dikutip dari HealthShots, tentukan jam kerja yang jelas dan gunakan waktu luang untuk beristirahat.
- Ubah cara pandang istirahat Bakan Vogue juga menegaskan bahwa istirahat adalah bagian dari produktivitas.
- Atur emosi dengan baik . Mengelola emosi adalah kunci untuk mencegah diri terjebak dalam toxic productivity. Menurut Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan saat wawancara di Kompas.com bahwa stres muncul saat seseorang tak mengenali batas dirinya.
- Jaga kesehatan fisik . Tubuh yang sehat akan mendukung pikiran yang tenang. Tapi sayangnya, banyak orang yang sibuk mengejar target sampai lupa makan teratur, kurang tidur, dan jarang bergerak. Padahal menjaga kesehatan fisik bukan sekadar olahraga, tapi juga memastikan tubuh mendapat waktu istirahat yang cukup.
- Rayakan hal kecil . Sering kali kita hanya fokus pada pencapaian besar tapi lupa menghargai proses kecil di sepanjang jalan. Padahal, merayakan hal-hal kecil bisa jadi cara ampuh untuk melawan tekanan produktivitas berlebihan. Karena keseimbangan hidup lebih penting daripada



















