Tahukah Sahabat Tidar, kalau salah satu pulau di Indonesia bagian Tengah punya cara yang unik loh untuk menyambut pahlawan mereka setelah selesai perang. Yuk kita melipir ke Nusa Tenggara Timur atau NTT dimana tak hanya keindahan alam dan hewan yang dilindungi saja yang perlu kita tahu. Melainkan salah satu tarian adat yang berasal dari masyarakat Pulau Timor, Kabupaten Belu.
Tarian ini bernama likurai dan pemerintah NTT berupaya melestarikan tarian ini dengan cara membuatkan sebuah festival dengan nama Festival Likurai. Festival Likurai sendiri merupakan pesta tarian perang atau tarian kolosal yang dimana bisa ditarikan sebanyak ribuan penari dari Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka dan negara tetangga Timor leste.
Festival ini biasanya digelar di puncak bukit Fulan Fehan yang terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lakmanen, Kabupaten Belu. Dengan pemandangan Gunung Lakaan yang dikelilingi bebatuan karang dan kaktus liar, membuat Falun Fehan menjadi tempat yang sangat indah dan khas.
Menurut Indonesia go.id konon di daerah Belu tarian ini memiliki tradisi dimana akan memenggal kepala musuh sebagai bentuk kekalahannya dan simbol perkasaannya. Tarian ini juga sebagai bentuk perayaan kemenangan para pahlawan dan ungkapan syukur atas kegembiraan masyarakat akan kemenangan juga kembalinya pahlawan dengan selamat.
Biasanya tarian Likurai ini akan dibawakan oleh penari wanita dan pria dengan jumlah penari wanita 10 orang dan penari pria 2 orang. Masing-masing penari wanita akan membawa kendang kecil atau tihar dengan dilengkapi pakaian adat dan penari pria akan menggunakan pakaian adat juga sekaligus pedang sebagai atribut.
Uniknya, pertunjukan ini tidak menggunakan iringan musik apapun kecuali kendang kecil dan teriakan khas para penari pria yang membuat tarian tersebut semakin meriah dan terkesan seperti perang sungguhan.
Tahun 2017 lalu pada bulan Oktober, festival ini dibuka untuk pertama kalinya dengan menghadirkan sekitar 6000 penari. Biasanya festival ini diadakan setiap tahun pada bulan oktober atau november, namun penyelenggaraan festival ini ada dan tiadanya balik lagi kepada pemerintah daerah dan kesiapan masyarakat adat setempat.
Jadi Sahabat Tidar, kalau festival ini diadakan kembali di tahun ini, apakah kalian semangat untuk menantikan dan menontonnya?



















