
Kemeriahan menyelimuti Kota Magelang dalam perayaan Hari Jadi ke-1120 yang jatuh pada tanggal 11 April. Puncak perayaan ditandai dengan gelaran Grebeg Gethuk yang berlangsung meriah di kawasan Alun-alun Kota Magelang pada Minggu (12/04/2026).
Tahun ini, Grebeg Gethuk tampil berbeda dengan serangkaian inovasi, mulai dari perubahan rute hingga keterlibatan aktif pelaku UMKM.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, menyoroti perubahan signifikan pada rute prosesi tahun ini. Jika sebelumnya menggunakan kereta kencana dari kantor PDAM, kali ini seluruh peserta melakukan prosesi jalan kaki bersama dari Pendopo Alun-alun menuju pusat Alun-alun Kota Magelang.
Ia juga menyebut gelaran Grebeg Gethuk sekaligus menjadi momen peresmian Pendopo Alun-alun.
“Kita mempunyai pendopo baru namanya Pendopo Alun-alun, Pendopo ini adalah hibah dari Kementerian Keuangan kepada Pemerintah Kota Magelang, sehingga tahun ini bisa kita manfaatkan 100 persen”, ungkapnya.
Damar juga mengatakan pemindahan lokasi upacara dan penyerahan duplikat Prasasti Mantyasih ke pendopo baru ini terbukti efektif mempersingkat waktu pelaksanaan acara sehingga lebih tertib sesuai jadwal.
Wali Kota juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh masyarakat, seniman, dan budayawan yang telah mendukung kelancaran acara.
“Kita berinovasi boleh, tapi pakem sejarah Mantyasih dan sejarah Kota Magelang tetap menjadi landasan utama yang harus kita laksanakan,” tegas Damar Prasetyono menyinggung pengembangan Grebeg Gethuk di masa depan.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menjelaskan bahwa pusat perhatian dari grebeg gethuk adalah dua gunungan gethuk, yakni Gunungan Gethuk Lanang dan Gunungan Gethuk Wadon.
“Masing-masing memiliki diameter 2,5 meter dengan tinggi mencapai 3 meter dengan bahan baku dibuat dari total 2 kuintal ketela”, ucapnya.
Selain waktu, perubahan signifikan terlihat pada tampilan gunungan dari masing-masing kelurahan. Jika biasanya gunungan identik dengan hasil bumi atau palawija, tahun ini setiap kelurahan diminta menampilkan visualisasi ekonomi kreatif dan kearifan lokal kelurahan di Kota Magelang.
“Diharapkan ada visualisasi dari ekonomi kreatif atau potensi pengembangan ekonomi di masing-masing kelurahan, sehingga tidak murni palawija, tapi dimodifikasi dengan produk-produk unggulan yang ada di sana,” tambahnya.
Nurwiyono juga mengatakan perayaan tahun ini juga mengedepankan aspek keamanan, seperti penggantian material besi pada pembatas (barikade) untuk memastikan warga dapat merayakan tradisi ngalap berkah atau berebut gunungan dengan aman dan nyaman.
Dari sisi artistik & kebudayaan, perayaan grebeg gethuk turut didukung oleh keterlibatan ratusan seniman lokal yang tergabung dalam pertunjukan Sendratari Babar Mahardika karya Sutradara Gepeng Nugroho



















