
Pemerintah Kabupaten Magelang meluncurkan inovasi pariwisata baru bernama “Borobudur Moon”, sebagai bagian dari strategi untuk menahan wisatawan agar menghabiskan waktu tinggal lebih lama (long stay) di Kabupaten Magelang.
Digelar pertama kali pada 7 Oktober mendatang, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut inisiatif ini dikembangkan dengan memaksimalkan potensi Candi Borobudur melalui tiga atraksi utama yakni Sunrise, Sunset, dan Moon.
“Saya ingin menunjukkan bahwa ketika ngomong wisata, ini bukan hanya masalah monumennya, tapi bagaimana kita mengelola dengan inovatif monumen Borobudur ini agar bisa menjadi satu destinasi yang bisa menahan orang untuk lama long stay-nya di Magelang”, ungkapnya didepan awak media.
Peluncuran ini sekaligus merupakan bagian dari upaya untuk mengubah kebiasaan wisatawan yang selama ini cenderung hanya berkunjung ke Borobudur dan memilih menginap di luar Magelang, seperti di Yogyakarta.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Mulyanto mengungkapkan, Borobudur Moon merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Magelang dan Pemerintah Kabupaten Gianyar Bali.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menggabungkan kekuatan seni budaya kedua wilayah, yang dikenal memiliki seni budaya yang sudah mengakar kuat dan cukup dikenal, membawa kontribusi yang sifatnya kolosal.
“Kolaborasi antara Pemerintah Gianyar dengan Kabupaten Magelang ini diharapkan mampu untuk mendorong wisatawan itu hadir dan bahkan menginap di wilayah Magelang,” ujar Mulyanto.
Lebih dari 200 penari akan memeriahkan Borobudur Moon di kawasan Marga Utama Candi Borobudur. Untuk kali pertama, masyarakat dapat menyaksikan mahakarya budaya dibawah sinar bulan purnama secara gratis.
“Ini akan menjadi sesuatu hiburan untuk masyarakat dengan tidak meninggalkan seni budaya lokal kita,” tambahnya.
Atraksi “Borobudur Moon” direncanakan menjadi destinasi bulanan, sehingga harapannya Borobudur Moon akan menjadi Magnet Atraksi Budaya kolosal baru, antara Pemerintah Kabupaten Magelang dengan Pemerintah Daerah lainnya di seluruh Indonesia.
Selain menampilkan berbagai pertunjukan seni dari Bali dan Magelang, gelaran Borobudur Moon 2025 juga akan menghadirkan fragmen sendratari bertajuk “Divine Ecstasy Dewi Malam.” Pementasan ini menjadi salah satu sajian utama yang akan memeriahkan suasana malam bulan purnama di Candi Borobudur.
Dengan latar megah candi yang diterangi sinar rembulan, fragmen ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman spiritual dan estetis yang mendalam bagi para penonton.
Karya ini mengisahkan perjalanan tokoh Sudhana dalam pencarian pencerahan spiritual dengan bertemu delapan dewi yang masing-masing memiliki karakter dan simbolisme tersendiri.
Pertemuan itu menggambarkan perjalanan batin manusia menuju kesadaran tertinggi, di mana Sudhana bersujud sebagai simbol ekstase dan penyerahan diri dalam spiritualitas.
Dengan koreografi yang indah, tata cahaya yang dramatis, serta musik tradisional yang berpadu harmonis, Divine Ecstasy Dewi Malam akan menjadi puncak refleksi seni dan spiritual di tengah pesona malam Borobudur yang bercahaya.



















