Siapa dari Sahabat Tidar yang tidak mengenal Jepang yang dikenal sebagai negeri dengan keindahan alam yang memukau, mulai dari bunga sakura, gunung fuji hingga budaya tradisionalnya yang begitu kental. Namun, dibalik keindahan itu, ada sebuah tempat yang menyimpan kisah kelam sekaligus misterius yakni Hutan Aokigahara.
Terletak di barat laut kaki gunung Fuji, hutan ini dikenal sebagai “Lautan Pohon” karena pepohonannya sangat rapat hingga cahaya sulit masuk. Namun, ketenangan itu justru menjadikannya terkenal sebagai lokasi mengakhiri hidup.
Fenomena ini bukan hal baru. Menurut BBC (2017), setiap tahun otoritas Jepang menemukan puluhan jasad di Aokigahara, meski pemerintah kini berhenti merilis angka resmi demi mengurangi stigma. CNN Travel menuliskan, di pintu masuk hutan dipasang papan peringatan dengan pesan: “Hidup adalah anugerah, pikirkan keluarga Anda.”
Selain reputasinya yang kelam, Aokigahara juga lekat dengan legenda kuno seperti praktik ubasute atau meninggalkan orang tua lanjut usia di hutan dan dibiarkan hingga tak bernyawa , yang pernah dilakukan di hutan ini. Mitos-mitos tentang roh gentayangan (yūrei) juga menambah kesan mistis, membuat Aokigahara kian menakutkan di mata masyarakat.
Selain legenda, hutan ini memiliki keunikan geologis. Aokigahara terbentuk dari lava Gunung Fuji yang meletus pada abad ke-9, menciptakan lanskap bebatuan yang membuat kompas sulit berfungsi dengan baik. Hal ini membuat orang yang masuk tanpa pemandu mudah tersesat.
Sejak tahun 1950-an, Aokigahara mulai dikenal sebagai tempat yang kerap dikaitkan dengan bunuh diri. Popularitasnya kian meningkat setelah novel Kuroi Jukai karya Seichō Matsumoto terbit pada 1960, yang menggambarkan karakter melakukan bunuh diri di hutan ini.
Kini, pemerintah Jepang berupaya keras menekan angka bun*h di*i dengan layanan konseling, hotline, dan patroli relawan. Dikutip dari The Japan Times, langkah ini penting karena isu kesehatan mental masih menjadi tantangan besar di Jepang.
Aokigahara pun menjadi simbol kontras: keindahan alam yang menakjubkan, namun menyimpan pesan kelam tentang rapuhnya kehidupan manusia.



















