
Belakangan ini banyak warganet di media sosial ramai-ramai menyebut bayi yang lahir pada tahun 2026 sebagai bagian dari “Generasi Sigma”. Unggahan di TikTok, YouTube, dan platform lainnya memicu diskusi hangat, karena label ini terdengar berbeda dari pola penamaan generasi yang biasa kita dengar seperti Baby Boomers, Gen X, Gen Z, atau Gen Alpha.
Apa itu “Generasi Sigma”?
Istilah Generasi Sigma yang ramai diperbincangkan berasal dari simbol huruf Yunani sigma (Σ). Dalam percakapan online, simbol ini sering dikaitkan dengan kata perubahan, fleksibilitas, dan kemampuan adaptasi. Akibatnya, banyak yang menyebut bayi lahir tahun 2026 sebagai “Generasi Sigma” karena mereka akan tumbuh di dunia yang sangat dipengaruhi oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kehidupan digital dari sejak dini.
Menurut narasi yang beredar, anak-anak yang disebut “Generasi Sigma” akan menjalani proses belajar yang menggabungkan teknologi digital dengan cara tradisional, serta hidup dalam realitas sosial dan pendidikan yang semakin hibrid antara daring dan luring. Interaksi dengan AI, asisten digital, dan sistem pemantauan kesehatan berbasis data diperkirakan bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka.
Perbedaan antara “Generasi Sigma” dan generasi yang sebenarnya diakui secara ilmiah
Meski Generasi Sigma ramai dibicarakan di media sosial, psikolog dan ahli demografi menegaskan bahwa istilah ini belum dikukuhkan secara ilmiah dan lebih merupakan tren bahasa populer, bukan klasifikasi generasi yang baku.
Dalam kajian sosiologi dan demografi, generasi biasanya diberi nama berdasarkan urutan waktu dan karakter umum masyarakat yang lahir di periode tertentu. Setelah Generasi Alpha (lahir sekitar 2010–2024), generasi berikutnya secara resmi disebut Generasi Beta, bukan Sigma. Penamaan ini dipopulerkan oleh pakar demografi seperti Mark McCrindle yang menggunakan alfabet Yunani untuk menamai kelompok generasi baru.
Alasan beberapa netizen “menolak” nama Beta dan memilih Sigma adalah karena konotasi kata “beta” dalam bahasa gaul kadang dipakai sebagai ejekan (misalnya mengacu pada sesuatu yang dianggap lemah). Sementara “sigma” di internet kerap diasosiasikan dengan karakter kuat dan mandiri, terutama dalam istilah populer sigma male yang berkembang di media sosial.
Saran dari ahli: fokus pada realitas yang lebih penting
Psikolog dari sebuah platform kesehatan mental mengimbau agar kita tidak terlalu terjebak pada label yang viral di internet. Menurutnya, istilah Generasi Sigma saat ini lebih merupakan meme atau tren media sosial, sedangkan penamaan generasi yang sah harus mengikuti kajian demografis yang sistematis. Lebih penting fokus pada tantangan nyata yang akan dihadapi anak-anak di masa depan—seperti perubahan iklim, integrasi AI dalam kehidupan, dan perubahan sosial global—daripada sekadar memberi label generasi
Sumber:Kompas.com,urbanvibes.id



















